desa cijoho
Kuningan News - Menyikapi rencana Pemerintah Daerah terkait penamaan jalan baru lingkar Cijoho yang akan dinamai jalan Lingkar Ir Soekarno dan Jalan Lingkar Dr M Hatta, salah seorang pengamat sejarah Kuningan Sarif Juanda kembali menyatakan ketidak setujuannya atas rencana tersebut. Pasalnya, di Wilayah jalan itu (Leles, red) terkandung nilai-nilai historis Kabupaten Kuningan yang sangat tinggi.
Menurut Syarif Juanda yang dibenarkan kasepuhan Kuningan, H Madrohim menuturkan kepada Kuningan News, Kamis (2/6), di sekitar lokasi jalan tersebut dahulu kala berdiri kerajaan Sunda dengan Raja Raden Prabu Anom Tamperan Dago Jawa. Ia merupakan putera dari Raden Sanjaya Haris Darmayudha (Jago Jawa) sebagai pendiri bumi Mataram. Sementara, di sekitar kawasan Desa Gunung Keling, dahulunya merupakan tempat keraton kerajaan Kelingga pertama dengan Rajanya Prabu Watu Gunung/Sri Baduga Pulasara.
“Kerajaan ini merupakan cikal bakal kerajaan Mataram Kuno yang diteruskan oleh isterinya, yaitu Ratu Simaha. Di sekitar Leles (Belakang LP Cijoho, red), disanalah berdiri Kerajaan terakhir Sri Baduga Raden Jaya Ratu Dewata/Maha Prabu Sri Baduga Jaya Maha Raja Ratu Haji/Prabu Jaya Prana bertahta sebagai Ratu Galuh. Kemudian, sebagai Susuhunan penguasa Sunda Galuh Pajajaran yang berkedudukan di Keraton Narayana yang sekarang merupakan Objek Wisata Cibulan. Maka tidak ada salahnya bila nama jalan di wilayah itu mengacu kepada nilai historis ini,” jelasnya.
Pria yang sangat memahami sejarah Kuningan ini menghimbau kepada seluruh masyarakat Kuningan agar supaya tidak melupakan sejarah masa lalu. Karena, dengan masa lalu itu dapat menyongsong masa kini dan masa yang akan datang. Sudah seyogyanya masyarakat Kuningan untuk belajar, bercermin dan berpegang dari ajaran yang terdapat pada sejarah masa lalu, agar masa yang akan datang dapat tercapai dengan gemilang.
“Saya berharap, Pemkab Kuningan seyogyanya memberikan penamaan jalan di titik-titik tertentu di Kabupaten Kuningan agar bisa mengacu kepada nilai historis. Salah satu contoh, mohon maaf jangan sampai salah kafrah, penamaan jalan Adipati di jalan lingkar Purwawinangun Cijoho sangatlah tidak benar, bahkan terkesan lucu,” terangnya.
Sekilas Tentang Kebesaran Kerajaan Kuningan Dahulu Kala yang Sebenarnya
Sang Pandawa/Sang Wiragati merupakan Raja Kuningan pertama (612-702 M.) dikenal sebagai seorang Raja berusia sangat panjang/abadi (Ciwanjiri, red). Ia dikenal dengan nama Prabu Yudistira, yang juga merupakan kakak kandung Sang Wretikandayun/Sang Suradharma pendiri kerajaan Galuh Pakuan Kuningan.
Raja Kuningan kedua/Saunggalah yang bernama Raden Demunawan/Resi Guru Seuweukarma sebagai menantu dari Sang Pandawa dan juga merupakan Cucu Sang Wretikandayun dari Putera Dang Hyang Guru Sempakwaja, Raja Galuh Pakuan di Garunggang Kuningan, tepatnya di Blok Dangdeur Pakembangan Kuningan.
“Tempat tersebut dikenal dengan sebutan Buyut Logik. Raden Demunawan/Sanghyang Resi Guru Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja Kuningan/menerima mandat dari Sang Pandawa tanggal 11 April 732 M di Saung Galah Kuningan dengan gelar Rang Hyang Tangkuku. Beliau lah yang memiliki ilmu Dang Hyang Kuning, yaitu ilmu sejatinya kebenaran dan keselamatan umat manusia (Kebenaran Hakiki),” jelas Syarif Juanda menuturkan.
Dalam sejarah kata Dodo panggilan akrabnya, Seuweukarma mengandung makna yang memilah dan menilai tindakan perbuatan umat manusia. Seuweukarma juga memegang, mengajarkan dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Siksa dan Sang Hyang Dharma yang merupakan ajaran kitab suci. Sang Hyang Siksa mengajarkan sepuluh pedoman hidup umat manusia, yang dikrnal dengan sebutan Dasa Sila/Dasa Marga/Dasa Kerta. Selain itu, Seuweukarma juga bergelar Maha Prabu Resi Guru, yang berarti seorang Raja yang dalam kehidupan dan pengetahuannya cenderung bersifat keagamaan.
“Kerajaan Saung Galah yang Beliau pimpin, kekuasaannya melebihi kerajaan Galuh dan Sunda dengan wilayah kekuasaannya mencapai Cimarau Patah, Puntang, Cikahuripan, Mandagaskar, Tungtang Balitar, Melayu, Sang Hyang Ujung (Malaysia dan Brunai Darussalam), Selatan Srilangka, Filiphina, Kepulauan Fiji, Mesir, India, Bratawarsawa, Jajirah Arab, Ambasyied dan Persia. Sang Resi Guru Seuweukarma bergelar juga Sang Mangukuhan Padjajaran kedua, beliau dikenal pula dengan sebutan Buyut Mangun Tapa,” ungkapnya.
Wilayah-wilayah tersebut merupakan pelimpahan kekuasaan dari Sang Pandawa, yang bergelar Raja Dunia (Jagat Pati) dan dikenal pula dengan nama Sri Baginda Maha Raja Candrawarman Jagat Pati Kusuma yang bergelar pula Raja Jagad Pati ketujuh. Sang Pandawa bersama Sang Wulan dan Sang Tumanggal adalah pemegang kendali kerajaan Kuningan yang mengeluarkan dan mengamalkan konsep pemerintahan yang dikenal dengan nama konsep Tritangtu/Sunda Buhun/Triumvirat, yaitu adanya jabatan Sang Rama, Sang Resi dan Sang Ratu.
“Sang Pandawa tiada lain adalah Raden Maha Basurata Sri Gati/Sri Maha Prabu Rama Wijaya/Sri Baginda Maha Raja Candrawarman Jagat Pati Kusuma/Pangeran Rama Jaksa Pati Kusuma/Sri Maha Panggung Kuning Taraju/Sri Ramayana,” terangnya.
Menurut tokoh sepuh Kuningan, H Madrohim selaku Ketua Susuhunan Luhur Mulia Kuningan melalui Syarif Juanda mengatakan, Sang Pandawa merupakan putera dari Raden Kandiawan/Pangeran Arya Adipati Suraliman Agung/Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati Kusuma yang mana Raja ini dikenal dengan nama Sang Hyang Batara Wisnu yang juga sebagai Cucunya Sang Hyang Batara Surya/Raja Resi Dewa Raja/Pangeran Arya Adipati Ewangga/Suraliman Sakti yang bergelar pula Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Sang Iswara Bhima Prakarma Digwijaya Surya Maha Purusa Jagat Pati. (muh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar